Tabula Rasa: Sebuah Film Bertema Masakan Minang

tabularasa

Semangat berjuang dalam mengarungi kehidupan dapat kita temukan kembali di mana saja, tak terkecuali pada makanan dan proses mengolahnya. Sepotong pesan inilah yang hendak dimasak dan disajikan lewat film layar lebar “Tabula Rasa” produksi Lifelike Pictures. Film yang disutradarai oleh sutradara muda Adrianto Dewo dan ditulis oleh Tumpal Tampubolon ini mencoba menawarkan kisah kehidupan tentang kekayaan rasa kuliner Indonesia serta kerinduan terhadap kampung halaman sebagai poros cerita.

Film Indonesia pertama yang bertema kuliner ini mencoba meleburkan dua budaya nusantara–budaya Minang dan Papua–menjadi sebuah kisah yang humanis dan menarik. Diproduseri oleh Sheila Timothy, “Tabula Rasa” mengangkat kelezatan masakan khas Minang ke layar lebar oleh karena kenikmatannya maupun kepopulerannya di lidah masyarakat Indonesia. Ketenaran daging rendang yang pernah masuk menjadi salah satu dari 50 makanan terlezat di dunia versi CNN menjadi alasan kuat lain untuk mengangkat kekayaan kuliner Minang ke dalam sebuah film.

photo-3

Dibintangi aktor asal Papua Jimmy Kobogau, aktris senior Dewi Irawan, Yayu Unru dan Ozzol Ramdan, “Tabula Rasa” dimulai dengan kisah Hans (Jimmy Kobogau), anak muda asal Serui, Papua, yang mempunyai mimpi tinggi menjadi pesepakbola profesional. Berbekal talenta, dia kemudian direkrut oleh sebuah klub besar untuk bermain di ibukota. Meninggalkan kampung halaman di ujung Timur nusantara, musibah menimpa Hans dan membuat dia harus terlunta-lunta di tanah Jawa.

Saat harapan Hans perlahan padam, dia lalu bertemu dengan Mak (Dewi Irawan), pemilik sebuah lapau (rumah makan kecil) Padang yang menolong dan memberinya makan sepiring nasi dan semangkuk gulai kepala ikan hangat. Bersama Parmanto (Yayu Unru) sang juru masak dan Natsir (Ozzol Ramdan) si tukang sanduak, Mak bertahan hidup dari keuntungan lapau Takana Juo yang hasilnya tak seberapa.

photo-1

Kehadiran Hans di lapau mendapat tentangan dari Parmanto. Keadaan semakin memburuk ketika sebuah rumah makan Padang yang lebih besar dibangun persis berseberangan dengan lapau Takana Juo milik Mak. Perselisihan di antara pengurus lapau pun tak terelakkan dan Mak serta Hans harus memutar otak agar lapau mungil mereka tak sepi pengunjung dan akhirnya harus gulung tikar.

Menggunakan kamera Alexa XT Plus yang mampu menangkap detil warna dengan lebih kaya, Amalia Trisna Sari selaku sinematografer “Tabula Rasa” tak hanya menggambarkan dinamika para tokoh yang muncul di dalam lapau, tetapi juga mengetengahkan warna-warni bumbu masak khas Minang, cara mengolahnya hingga masakan tersebut hangat tersaji di atas meja.

tabularasa1

Cita rasa Minang yang muncul sepanjang film didukung pula oleh music scoring manis garapan music director Andri Perkasa. Nuansa musik tradisional khas Minang seperti talempong dan saluang berpadu dinamis dengan bebunyian musik modern seperti synth dan loops. Lagu lama khas Minang dan Melayu seperti “Iseng Bersama” dari Sam Maimun, “Mak Inang Pukalu Kampai” oleh Orkes Tropicana Medan dan “Teluk Bayur” yang dipopulerkan Ernie Djohan semakin megentalkan aroma budaya Minang sepanjang film berlangsung. Lagu bertajuk “Gurat Asa” yang dibawakan oleh band indie Dialog Dini Hari turut memperkaya warna musik yang hadir dalam film.

Film berdurasi 107 menit ini mampu menarik perhatian penonton dengan karakter tokoh-tokohnya yang unik dan apa adanya. Sayangnya, alur cerita terkesan terlalu lambat dan membosankan di awal film dan baru terlihat menggeliat setelah Hans bertemu dengan Mak. Harus diakui, performa akting Dewi Irawan di film ini sangat mengesankan dan mampu menciptakan dinamika di antara karakter-karakter lain yang tampil.

07

Meskipun Jimmy Kobogau berperan cukup baik sebagai Hans, karakter Hans yang seharusnya muncul terkuat sebagai karakter utama justru agak tertutupi oleh tingkah polah Natsir yang sangat Minang dan berhasil diperankan dengan sempurna oleh Ozzol Ramdan. Sementara itu, Parmanto hadir sebagai karakter antagonis yang tetap humanis dengan segala problema hidupnya.

Di antara gempuran film-film Indonesia dengan cerita yang kurang realistis, “Tabula Rasa” menjadi alternatif segar yang menyajikan kisah humanis dengan konflik dan problema yang membumi dan tidak mengada-ada. Hanya saja, dengan kamera sekelas Alexa XT Plus, sebenarnya film ini bisa dikemas dengan visual yang lebih cantik dan memanjakan mata penonton. Sudut pengambilan gambar dan pergerakan kamera juga terasa agak kurang berani untuk sebuah film yang bertemakan kuliner. Tapi tak perlu khawatir, film ini akan membuat penonton ingin segera mampir ke rumah makan Padang terdekat seusai menyaksikannya. Setidaknya hal itu berlaku bagi saya.

Film “Tabula Rasa” akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 25 September 2014.

*Semua foto adalah milik Lifelike Pictures. 

 

Follow us on Twitter, join us on Google Plus & like us on Facebook.

Advertisements

4 thoughts on “Tabula Rasa: Sebuah Film Bertema Masakan Minang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s