Kisah Banowati Dalam Pentas Langendriyan

OLYMPUS DIGITAL CAMERAJika dunia Barat punya seni opera, maka sebetulnya Indonesia juga punya seni yang serupa, yakni Langendriyan. Langendriyan sendiri adalah sebuah seni drama tari khas Jawa yang berakar di Kasunanan Mangkunegaran Surakarta. Langendriyan dipentaskan dengan menggabungkan bunyi, narasi, gerak dan mimik muka. Sepintas lalu, Langendriyan terlihat hampir sama saja dengan bentuk drama tari lainnya. Namun, sesungguhnya Langendriyan tergolong sulit dipentaskan sebab tuntutan peran peraga yang tak hanya harus luwes menari, tetapi juga harus mampu melagukan dialog (nembang) Macapat Tengahan serta kuat dalam penghayatan karakter yang dibawakan.

Salah satu ciri khas Langendriyan adalah tari yang dipentaskan tidak dilakukan dengan berdiri utuh, tetapi juga dengan berjongkok dan sesekali berlutut. Tak heran, peraga Langendriyan harus memiliki stamina dan fisik yang sangat kuat untuk dapat mementaskannya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERATradisi Langendriyan versi Mangkunegaran konon berasal dari tradisi “ura-ura” atau menembang yang dilakukan oleh para buruh batik di perusahaan batik milik Godlieb. Godlieblah yang pertama menggelar pentas Langendriyan. Lantas, oleh Raden Mas Haria Tandakusuma, pentas tersebut dijadikan Langendriyan Mandraswara di masa kekuasaan Mangkunegara IV (1853-1881).

Dalam misi melanjutkan tradisi serta memperkenalkan pentas Langendriyan ke khalayak luas terutama kaum muda, komunitas BudayaKu, sebuah komunitas budaya yang bergerak dalam dokumentasi, promosi dan edukasi, menggelar pentas Langendriyan bertajuk “Banowati, Jalingan Golek” di Gedung Kesenian Jakarta, 1 dan 2 Desember 2012 lalu. Koreografer senior Elly D. Lutan berperan menjadi sutradara sekaligus peraga. Pementasan ini berkisah tentang Banowati, tokoh perempuan dalam Mahabharata yang diperistri oleh Prabu Suyudana, akan tetapi memilih untuk tetap memberikan cintanya kepada Arjuna. Kisah ini mencoba mengingatkan kita akan pilihan hidup antara cinta dan pengorbanan sosok perempuan.

Karakter Banowati yang unik dan penuh kontradiksi coba diangkat oleh Elly melalui pentas Langendriyan ini. “Apa yang ingin disampaikan oleh leluhur kita melalui tokoh Banowati? Dia istri seorang raja, tetapi dia mencintai Arjuna. Tubuhnya boleh dimiliki raja, tetapi hatinya hanya dimiliki Arjuna,” terang Elly dalam konferensi pers sebelum pementasan Langendriyan digelar.

OLYMPUS DIGITAL CAMERAYang juga menarik, dalam pementasan ini terjadi banyak peleburan kesenian yang ditampilkan di atas panggung, misalnya dibawakannya puisi “Simpang Empat” karya Yanusa Nugroho dan puisi “Banowati” karya Gunawan Maryanto di sela pementasan. Selain itu, meski tari yang diperagakan dipanggung adalah tari Jawa, tetapi komposisi musik yang ditampilkan untuk mengiringi tarian heterogen. Selain gamelan Jawa, ornamen musik lain dari berbagai daerah seperti gendang Makassar dan pui-pui (seruling kecil) turut mengalun dan menyatu sebagai pengiring tarian.

Menurut Elly, dilema yang dialami Banowati sesungguhnya adalah dilema yang relevan dan juga dialami oleh perempuan masa kini dan sangat layak untuk dipentaskan. “Untuk saya, tari adalah ibadah dan seni itu tidak berbatas dan selalu berkembang,” ungkap seniman tari yang juga turut ambil bagian dalam pagelaran “Matah Ati” beberapa bulan lalu itu.*

Follow us on Twitter, join us on Google Plus & like us on Facebook.

Advertisements

One thought on “Kisah Banowati Dalam Pentas Langendriyan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s