Sintamu Sintaku: Kisah Rama dan Sinta di Masa Modern

Bagaimana bila Sinta meragukan rasa cintanya sendiri kepada Rama? Bagaimana pula jika penggalan kisah Ramayana itu disajikan dalam bentuk pertunjukan wayang yang memadukan unsur wayang kulit dengan teater, musik dan tari? Pentas Wayang Urban bertajuk  “Sintamu Sintaku” yang digelar tanggal 2-3 November 2012 lalu di Gedung Kesenian Jakarta menghadirkan semua itu.

Lakon “Sintamu Sintaku” menyajikan sebuah tafsir modern akan penggalan kisah epos Ramayana. Nanang Hape, selaku sutradara sekaligus dalang, membawa pementasan wayang menjadi sebuah kisah menarik dan mudah dicerna generasi muda. “Sintamu Sintaku” berkisah tentang Sinta yang belasan tahun diculik Rahwana. Selama itu pula keduanya menakar kesetiaan dalam diri masing-masing. Rama curiga Sinta tak lagi setia, sementara Sinta sibuk mempertanyakan eksistensi diri bila kelak ia harus terus bersama Rama. Berdurasi kurang lebih satu setengah jam, “Sintamu Sintaku” mampu menyatukan kisah klasik Rama dan Sinta dengan konflik yang lazim ditemui di masa modern.

Menurut Nanang, persiapan pertunjukan wayang urban ini memakan waktu hingga lima bulan. Dua bulan terakhir dihabiskan untuk melakukan latihan. Pertunjukan yang didukung artis Adinia Wirasti, Meyke Vierna dan Sruti Respati ini menebar banyak humor di dalamnya. Beberapa sukses membuat penonton terpingkal, beberapa lagi terasa satir dan membuat kita terpaksa tersenyum kecut.

Ulah nakal nan cerdas para punakawan yang tampil modern sungguh membuat pertunjukan ceria. Di sisi lain, beberapa dialog antara dalang dan pemain juga monolog Sinta di atas panggung mampu membuat kita merenung sebab kedekatan konflik yang dialami dengan permasalahan yang sering kita alami sehari-hari. Meski penonton yang datang di pertunjukan hari pertama tak terlalu banyak, tetapi pementasan “Sintamu Sintaku” telah mampu menghadirkan kemasan segar dari kisah lawas Rama Sinta, setidaknya bagi penonton muda seperti saya.*

Follow us on Twitter, join us on Google Plus & like us on Facebook.

Advertisements

2 thoughts on “Sintamu Sintaku: Kisah Rama dan Sinta di Masa Modern

    • kalau wayang urban jarang ya mbak? tapi di taman budaya Sby rutin ada gelaran wayang lho mbak. barangkali bisa dicek jadwalnya ke sana. btw, salam kenal. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s