I Gusti Agung Prana: Pahlawan Pariwisata Desa Pemuteran


Kesempatan tak hanya bisa dicari, tetapi juga bisa diciptakan. Bahkan sesuatu yang terlihat jelek dan tak terawat pun bisa diubah menjadi emas bernilai tinggi dengan adanya niat dan kesungguhan. Itulah yang dilakukan oleh I Gusti Agung Prana, seorang pria Bali yang menjadi pionir pembangunan pariwisata berkelanjutan di Desa Pemuteran, Bali.

Lebih dari 20 tahun yang lalu, Agung yang dahulu berprofesi sebagai pemandu wisata mendatangi Desa Pemuteran yang berada nun di Utara pulau dewata. Desa Pemuteran yang berlokasi sekitar 55 kilometer dari Singaraja dan 30 kilometer dari pelabuhan Gilimanuk memiliki lanskap alam yang unik. Wilayahnya berada di tepi pantai yang dihiasi tiga teluk cantik dan juga diapit oleh bebukitan di sisi yang berseberangan.

Beberapa pura seperti Pura Pulaki, Pura Kerta Kawat dan Pura Melanting adalah beberapa tempat sembahyang yang dianggap penting di Bali Utara. Agung meyakini bahwa alam Pemuteran membawa keberuntungan tersendiri oleh sebab alamnya yang diapit laut dan bebukitan. “Tempat ini mewakili konsep Nyegara Gunung yang dalam Bahasa Bali berarti kombinasi antara laut dan pegunungan,” Agung menjelaskan. Nyegara gunung adalah sebuah konsep spiritual masyarakat Bali tentang keterhubungan energi antara laut dan gunung. Hal inilah yang kini diyakini masyarakat Desa Pemuteran sebagai pembawa berkah dan keberuntungan bagi mereka yang tinggal disana.

Panggilan spiritual untuk membangun

Usaha gila Agung dalam mengembangkan Desa Pemuteran bermula saat ia memutuskan untuk membangun sebuah penginapan kecil untuk wisatawan lebih dari 20 tahun lalu. Saat itu, pariwisata Bali belumlah semarak saat ini. “Tak seorang pun yang mau datang ke tempat terpencil di Utara ini, jauh dari gemerlapnya dunia pariwisata

Bali di Kuta, Sanur dan Ubud,” Agung berkisah. Namun, Agung mengaku aksi nekatnya itu dipicu oleh adanya semacam panggilan spiritual untuk mengelola wilayah Pemuteran.

Awalnya, tidak mudah bagi Agung untuk dapat diterima oleh penduduk Desa Pemuteran. Kala itu mayoritas penduduk Pemuteran yang berprofesi nelayan menangkap ikan dengan menggunakan bahan-bahan peledak yang merusak ekosistem terumbu karang. Padahal, wilayah Teluk Pemuteran sebetulnya memiliki ekosistem terumbu karang perairan dangkal terbesar di seluruh Bali. Sayangnya, minimnya pengetahuan penduduk Pemuteran tentang pentingnya konservasi terumbu karang membuat keindahan bawah laut itu hancur lebur. Tangkapan ikan para nelayan pun menurun dan masyarakat Desa Pemuteran di masa itu terpaksa hidup dalam kemiskinan.

Dengan pendekatan berbasis budaya dan komunitas, perlahan namun pasti Agung mulai bisa diterima oleh masyarakat Pemuteran. Agung secara bertahap mulai mengedukasi penduduk desa untuk mengubah teknik menangkap ikan yang mereka lakukan agar tak lagi merusak ekosistem bawah laut. Sosok Agung yang kebapakan ternyata membantunya untuk menjadi tokoh yang disegani di Desa Pemuteran.

“Saya selalu meyakinkan para nelayan itu untuk melindungi habitat ikan-ikan di teluk dengan teknik menangkap ikan yang benar. Banyak dari mereka yang menggunakan bom agar cepat memperoleh tangkapan ikan. Namun, saya bilang ke mereka kalau ikan-ikan itu tak punya rumah lagi, lalu kalian mau makan apa?” jelas Agung. Sebagai wujud kepeduliannya, bersama masyarakat setempat, Agung mendirikan Yayasan Karang Lestari yang bertujuan untuk melestarikan dan mengembalikan kembali keindahan ekosistem terumbu karang di Teluk Pemuteran.

Rehabilitasi terumbu karang dengan Bio Rock

Yayasan Karang Lestari yang didirikan Agung ini bertujuan melestarikan dan merehabilitasi terumbu karang yang terlanjur rusak. Ide dan usaha Agung ini rupanya juga menarik minat dua orang peneliti kelautan. Thomas J. Goreau asal AS dan Wolf Hibertz asal Jerman dari Global Coral Reef Alliance tertarik membantu Agung merehabilitasi ekosistem teluk. Adalah Yos Amerta, Ketua Gabungan Pengusaha Wisata Bahari (Gahawisri) Bali yang mempertemukan kedua pihak tersebut untuk bekerjasama.

Selanjutnya, mereka mulai melakukan rehabilitasi terumbu karang dengan teknik baru bernama Bio Rock. Teknik ini merangsang dan mempercepat terumbu karang yang masih bayi dengan cara mengalirkan listrik bertegangan rendah pada kerangka rumpon yang diletakkan di dasar laut. Tom dan Wolf, demikian kedua peneliti itu akrab disapa, membuat percobaan dengan menenggelamkan rumpon ke dasar laut sedalam 12 meter. Lalu, ribuan bibit terumbu karang diikatkan pada rumpon menggunakan kawat dan rumpon dialiri listrik berkekuatan rendah, 12 hingga 20 volt.

Aliran listrik yang mengalir ke seluruh permukaan rumpon berfungsi sebagai stimulus bagi berkumpulnya kalsium karbonat dan air laut yang mengandung magnesium hydroxide pada rumpon besi. Secara perlahan, terbentuklah pondasi terumbu karang berupa kerak putih yang berpadu dengan bibit terumbu karang yang diikat tadi.

Hasil percobaan ini sungguh mencengangkan. Dalam sebulan, pondasi terumbu sudah terbentuk. Bibit terumbu karang yang dicangkokkan juga mulai memperlihatkan pertumbuhan karang baru. Dengan adanya aliran listrik, pertumbuhan terumbu karang terbukti mampu dipercepat hingga enam kali dibandingkan jika terumbu dibiarkan tumbuh secara alami.

Teknik yang disebut juga sebagai elektrolisa akresi mineral ini menurut Agung sudah pernah diterapkan di beberapa tempat di luar negeri seperti Thailand, Maladewa dan Amerika Serikat. Namun, Agung mengatakan hasil pertumbuhannya tak sebagus di Pemuteran. “Hal ini disebabkan warga lokal di tempat lain tidak turut berpartisipasi melakukan rehabilitasi tersebut,” Agung menyimpulkan.

Keberhasilan ini membawa Desa Pemuteran memperoleh penghargaan The Equator Prize dan UNDP Special award dari United Nations Development Programme. Desa Pemuteran berhasil menjadi salah satu dari 10 penerima penghargaan yang menyisihkan 812 nominasi dari 113 negara. Sebuah prestasi yang layak dibanggakan. Di negeri sendiri, Desa Pemuteran pernah menjadi penerima penghargaan lingkungan Kalpataru tahun 2005 silam. Usaha dan keyakinan Agung selama puluhan tahun akhirnya berbuah hasil. Kini Desa Pemuteran menjadi ikon pembangunan pariwisata berkelanjutan yang patut ditiru tak hanya di Bali, tapi juga di Indonesia. *

Follow us on Twitter & like us on Facebook.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s